Taat Berlalulintas

Sekarang denda pelanggaran lalu lintas mahal udah 40.000-an” begitulah si pak sopir angkot Panghegar-Dipatiukur membuka pembicaraan dengan saya pagi tadi. Untuk beberapa saat saya terdiam . . . apa dia bicara dengan saya ? tapi sepertinya iya karena saya satu-satunya penumpang yang duduk di depan dan tidak ada penumpang lain.

Kemudian saya pun berbicara panjang-lebar dengan si pak sopir tersebut tentang berbagai masalah tata tertib berlalu lintas. Dia malahan curhat ke saya “mas saya pernah balik memarahi seorang ibu yang marah-marah ketika keinginannya untuk turun tidak saya penuhi karena pas pada tanda dilarang berhenti (S coret), cetusnya si sopir ibunya cantik tapi kok ngak tau peraturan yah ? . . . ” saya hanya bisa ketawa . . . he. . . he. . . trus saya bilang cantik mah ngak ada hubungan pak sama peraturan . . . diapun ketawa . . .

Ada hal lain lagi yang saya dapatkan dari cerita si pak sopir ini, kata dia sekarang sepertinya peraturan berlalu lintas sudah dijalankan dengan baik . . . lanjut kata dia mungkin karena ada pergantian birokarasi di kepolisian bandung mas. Ketika mendengar apa yang dikatakan si pak sopir saya teringat ada salah sopir taksi yang pernah saya tumpangi mengatakan hal yang sama. (mungkin memang sudah lebih baik). Si pak sopir ini pun mengatakan mas saya ini pernah bekerja di Brunei disana semua orang taat berlalu lintas dan saya pun ikutan tertib mas tapi setelah saya balik lagi kesini yah jadi ikutan lagi acak kadut . . . he . . . he . . . dia lalu menyangkan perilaku penumpang yang memberhentikan angkot di tempat yang tidak tepat untuk berhenti. Ada harapan dari si pak sopir katanya kalau saja ada kerjasama antar penumpang dan pengendara angkutan untuk menaati peraturan maka mungkin tidak menyebabkan kemacetan

Pesan bagi Angkoter’s dan pengguna jalan raya lainya mari kita mencoba untuk mematuhi semua peraturan dan rambu-rambu yang ada di jalan raya (bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi).

3 comments

  1. Pesan Bapak Insya Allah saya laksanaken.

    Mungkin sudah membudaya kalau turun dari angkot teh atau apapun jenis kendaraan pribadi/umum lainnya mesti pas banget depan rumah, kantor, kampus, sekolah, toko, supermarket, dll. Tidak peduli ada rambu S coret, P coret dan coret-coret lainnya. Perilaku seperti ini yang harus dibenahi.

    Mari kita galakkan Tertib Berlalulintas!

  2. ya gitu aja kok Repot……maju terus kalau kagak ada Polisi .ini cerita saya waktu masih bergabung sama Serse ,saya di bilangin kita ingin Cepat dan selamat
    harus mengutamakan one yaitu WASPADA
    tengok k/k Kosong mbablas angine……

    Ocreh ……..Boos………Ha……Ha…….Ha…

  3. kalo gitu yang harus ditilang penumpangnya juga dong kan ga fair kalo cuma angkotnya doang.

    Oh ya aku pernah dapet tips dari milis, kalo ditilang jangan mau terima slip yang warna merah, karena untuk membereskan urusannya harus ke pengadilan segala karena dg kita menerima slip merah artinya kita menyetujui bahwa kita melanggar DAN melawan petugas.
    yang harus kita minta adalah slip warna Biru, kalo itu cara membereskan urusannya cukup bayar denda ke Bank dan slip nya dapat dijadikan dasar untuk mengambil dokumen, slip biru itu artinya kita menyadari bahwa kita melakukan pelanggaran.

    itu kalo ga salah, kalo ada Pak Polisi yang baca comment ini, silahkan dikoreksi bila salah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s