Pricing

Sudah lama sekali ingin menuliskan tentang materi-materi yang di-share pak Anger dalam acara rutin mingguan Learning Day. Nah ini salah satu yang ada di catatan saya adalah mengenai penentuan price.

Di awali cerita pak Anger bahwa puluhan tahun telah terjadi kesalahan dalam pengajaran bahkan pada level magister tentang konsep menentukan price. Pada masa yang lalu penentuan price di tentukan dari besarnya cost (cost adalah besarnya biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan suatu produk) dan margin (margin adalah besar keuntungan yang ingin diperoleh dari penjualan produk) sehingga penentuan price dengan cara ini akan menghasilkan price produk yang sangat tinggi sehingga harga produk tidak masuk pada kemampuan membeli konsumer apalagi produk tesrsebut bukan merupakan produk yang primer bagi konsumer.

price2.jpg

Saat ini penntuan price merupakan faktor utama yang harus ditentukan terlebih dahulu sebelum mentukan cost dan margin. Inilah yang telah dilakukan oleh Toyota dalam menghasilkan produk-produk mobilnya. Dengan melakukan penentuan price diawal (tentunya didasarkan atas kemapuan membeli konsumer) maka langkah berikutnya adalah menentukan cost dan margin. Disini price menjadi faktor kunci dalam menghasilkan sebuah produk sehingga variabel cost dipertimbangkan sedemikian rupa untuk tidak melebih price yang telah ditentukan.

price1.jpg

Untuk mengurangi cost pak Anger terus memaparkan lagi tiga skenario yang diterapkan oleh Loockeed Martin yang dikenal dengan LM21 untuk mencapai operating excellence & productivity. Tiga skenario tersebut adalah :

  1. Cut Budget: hanya melakukan pengurangan budget dengan batas tertentu dan langsung menentukan besarnya pengurangan budget 10 sampai 20 persen tanpa ada pertimbangan sebelumnya pokonya “lakukan pengurangan“, inilah yang disebut oleh LM21 merupakan skenario pemalas (LAZY PATH)
  2. Cut Service: melakukan pengurangan terhadap layanan atau fitur produk, tapi hal ini merupakan hal yang sangat berbahaya karena kadang layanan atau service tersebut yang diinginkan oleh konsumer pada saat membeli produk, inilah yang disebut oleh LM21 merupakan skenario bodoh (STUPID PATH)
  3. Cut Waste: merupakan skenarion yang paling disarankan oleh LM21 bahwa untuk mencapai operating excellence perlu membuang hal-hal yang memang tidak dibutuhkan baik itu aktivitas, material dan lainnya, inilah yang disebut oleh LM21 merupakan skenario cerdas (SMART PATH)
lm21.jpg

4 comments

  1. Stupid Path ini pernah dilakukan beberapa tahun lalu oleh banyak maskapai penerbangan di Indonesia. Terutama untuk biaya maintenance. Hasilnya beberapa tahun terakhir ini, banyak kecelakaan pesawat terbang. Semoga Stupid Path ini tidak dilakukan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s